Halaman

Sabtu, 10 November 2012

POLITIK DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN



Politik adalah pertarungan preferensi, yang berarti juga ambisi. Di dalam situasi demikian, tiap klaim kehendak umum harus dicurigai sebagai bentukan ambisi. Karena itu, demokrasi harus menjamin agar satu ambisi diperiksa dan diseimbangkan oleh ambisi lain (ambition checked by other ambition).
Demokrasi tidak berfokus pada kehendak umum, tetapi kerja sama politik. Apakah dalam bidang pendidikan dapat terganggu juga?. Bahkan jangan sampai di kalangan intelektual pendidikan pun dapat menjagokan salah satu figure kepemimpinan dalam proses politik. Hegomoni dan karakter seorang intelektual pendidikan dalam proses mendidik, membimbing, memimpin, dan yang terlebih lagi menjadi contoh pada generasi mendatang apakah mampu melaksanakan tugasnya dengan baik atau tidak.
Sedangkan salah satu tujuan penyelenggraan pendidikan ialah untuk membentuk sikap moral dan watak peserta didik serta masyarakat yang berbudi luhur. Sebagai langkah konkritnya, rakyat diharapkan memiliki kemampuan untuk memposisikan diri sebagai aktor sosial (social agents) yang kritis, rasional, aktif, kreatif dan produktif dalam melahirkan berbagai alternatif guna keluar dari sistem hegemonik dan sekaligus melakukan counter-culture terhadap setiap kemapanan dan ketidakadilan. Untuk itu,
hendaknya mereka berani melakukan pembacaan kritis dan pembongkaran terhadap segala realitas hegemonik tersebut.
 Di era globalisasi menuntut kesiapan kita lebih matang dalam segala hal. Bidang pendidikan merupakan salah satu andalan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman itu. Persiapan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan dilakukan sejak dari masa pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Adanya persiapan sedini mungkin diharapkan akan memberikan kualitas peserta didik yang lebih baik. Intelektual pendidikan dalam hal ini guru dan tenaga kependidikan haruslah menjadi patokan bagi masyarakat social dalam pengembangan tugas profesinya.
Dari permasalahan politik di atas, sesungguhnya bagi seorang intelektual pendidikan haruslah memberikan suatu kontribusi pikir kepada masyarakat sipil untuk  menjadikan demokrasi di daerah ini sebagai demokrasi yang bermoral, berwibawa, dan demokrasi yang berdasarkan Pancasila.
Kalau kita lihat dari pada permasalahan pendidikan yang ada sekarang apakah seorang intelektual pendidikan harus memposisikan dirinya sebagai agen politik. Jangan sampai terjadi pada lingkungan sekolah serta masyarakat pun kaum-kaum intelektual pendidikan sudah memainkan perannya untuk menjagokan salah satu kandidit?. Lebih buruknya lagi bila terjadi konflik diantara para intelektual pendidikan untuk mencapai kepentingan-kepentingan di kemudian hari. Masalah-masalah ini yang akan membuat seorang intelektual pendidikan kehabisan moral dan etika dalam jabatan profesinya sebagai tenaga pendidik melainkan sebagai pemain-pemain politik.
Dikhawatirkan juga, bahwa seorang tenaga pendidik dan tenaga kependidikan sebagai mediator antara masyarakat sipil (civil society)  dengan para kandidat dengan wajah tak kelihatan. Ini akan menjadi sangat fatal dengan dunia pendidikan! Semoga, dengan harapan bahwa para intelektual pendidikan di setiap daerah tidak menjadi pemain-pemain politik siluman tetapi menjadi actor pendidikan yang profesional dan tangguh.

MANAJEMEN STRATEGIK DAN REFORMASI SEKOLAH DALAM RANGKA IMPLEMENTASI KURIKULUM BARU TAHUN 2013

Pengantar

Meski menuai banyak pro dan kontra mengenai perombakan kurikulum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap akan melaksanakannya pada tahun ajaran 2013-2014. Hingga saat ini, pembahasan seputar penataan kurikulum masih terus dilakukan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengkaji perubahan kurikulum pendidikan nasional yang rencananya akan diimplementasikan pada tahun ajaran 2013/2014. Sistem pembelajaran dalam kurikulum baru tersebut nantinya akan bersifat tematik. Kurikulum akan selalu dinamis sesuai dengan tuntunan zaman. Kurikulum baru akan mencoba untuk tidak membebankan buku kepada siswa. Pendidikan bersifat tematik akan dapat mengembangkan tindak kompetensi penting, yakni perilaku, keterampilan, dan pengetahuan. Selain itu, pendidikan karakter akan lebih ditenkan pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan karakter akan lebih besar ditekankan pada jenjang sekolah dasar untuk pembentukan sikap (Suara Merdeka, 25 Oktober 2012).
Kurikulum yang sedang dalam penyusunan tersebut diharapkan akan memberikan perubahan pada model pembelajaran. Pembangunan karakter sebagai sentral dari pendidikan nasional akan disinergikan dengan kebudayaan untuk menyebarkan virus pembangunan karakter, dan targetnya bukan hanya peserta didik tetapi juga guru dan masyarakat luas. Kurikulum pendidikan nasional akan diperlakukan beda di setiap jenjangnya. Peserta didik di tingkat SD akan lebih ditempa dengan mata pelajaran yang dapat membangun sikap. Karena itu, salah satu fokus pembahasan dengan pemangkasan mata pelajaran dari 11 mata pelajaran menjadi tujuh mata pelajaran. Selanjutnya, jenjang SMP diarahkan pada keterampilan, dan jenjang SMA condong pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025). Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.”
Terkait dengan upaya mewujudkan kurikulum baru menitikberatkan pada aspek perilaku, keterampilan dan pengembangan pengetahuan yang nantinya akan berlaku pada tahun pelajaran 2013/2014, sesungguhnya hal yang dimaksud itu sudah tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”  (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional -UUSPN).
Implementasi kurikulum baru menuntut perubahan terhadap berbagai aspek pendidikan, termasuk reformasi sekolah (school reform). Reformasi sekolah atau school reform merupakan suatu konsep perubahan kearah peningkatan mutu pendidikan. Reformasi  sekolah harus dilakukan untuk merespon kondisi pendidikan dewasa ini yang semakin terpuruk. Untuk itulah dalam pengimplementasian pendidikan karakter bangsa ini, perlunya sebuah manajemen strategik dalam sekolah yang dapat mengarahkan dan mengontrol terciptanya budaya karakter bangsa Indonesia yang akan semakin baik kedepannya.
Pentingnya manajemen yang efektif dalam organisasi pendidikan semakin banyak mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Sekolah dan perguruan tinggi akan lebih efektif dalam memberikan pendidikan yang baik pada siswa atau mahasiswanya jika mereka ter-manage dengan baik. Penelitian tentang efektifitas sekolah dan perbaikan sekolah di beberapa negara menunjukan bahwa kepemimpinan dan manajemen merupakan salah satu variabel terpenting untuk membedakan antara sekolah yang berhasil dan yang tidak (Sammon et. al., 1994). Temuan ini menunjukan bahwa manajemen tidak bisa dianggap sebagai suatu aspek institusi pendidikan yang tidak bisa bisa diubah. Manajemen yang baik akan membuat sebuah perbedaan mutu sekolah dan perguruan tinggi serta pendidikan pada pelajarnya.
Pengenalan tentang manajemen sekolah dan perguruan tinggi di beberapa negara, misalnya Amerika Serikat, Australia, Hongkong, Inggris, Israel, dan Selandia Baru, telah meningkatkan kebutuhan mereka terhadap manajemen sekolah dan perguruan tinggi yang efektif. Ini disebabkan sekolah telah mengambil alih tanggung jawab pendidikan, yang sebelumnya dipegang oleh pemerintah nasional, regional atau lokal. Tanggung jawab tersebut mencakup manajemen finansial, aspek-aspek manajemen staf dan manajemen yang berkaitan dengan beberapa kelompok eksternal sekolah atau perguruan tinggi. Sekarang organisasi-organisasi pendidikan bertanggung jawab langsung terhadap hampir seluruh aspek manajemen. Dalam konteks ini, seorang pemimpin dimungkinkan untuk mengadopsi suatu pendekatan strategis, yang mengitegrasikan beberapa aspek manajemen yang berbeda untuk mengatur dan mencapai tujuan-tujuan institusi pendidikannya.

Jumat, 09 November 2012

JADIKAN ANAK KITA SEBAGAI PENDULANG PENDIDIKAN BUKAN PENDULANG EMAS (Harapan Masa Depan Genarasi di Fuka Bipolo)



Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Pulau Buru merupakan salah satu tempat yang menjadi target semua orang untuk bisa mendapatkan hasil kekayaan alam yang sangat berlimpah ruah.  Ini membuktikan bahwa Pulau Buru sebagai salah satu tempat penghasil SDA khususnya emas yang mampu mengubah masyarakat kepada masa depan mereka di kemudian hari. Menjadi pertanyaan yang tak mudah dijawab, ketika Pulau Buru yang kaya akan sumber daya alamnya apakah bisa menjadi investasi besar bagi generasi kita untuk menjadikannya sebagai modal utama pendidikan di kemudian hari?
Ini menjadi suatu impian bagi semua warga Fuka Bipolo, agar dalam pemanfaatan SDA tersebut dapat  menguntungkan bagi generasi mereka dalam mengembangkan pendidikan yang lebih tinggi. Akan tetapi bila jika masyarakat melihat hanya pada aspek keuntungan sesaat dari berbagai pertambangan di Pulau Buru, dan memanfaatkan anak usia sekolah untuk menjadi “Pendulang Emas dan Bukan Pendulang Pendidikan” maka masa depan generasi ini akan terhambat oleh keuntungan sesaat tersebut.
Penyebab utama anak usia sekolah terjun menjadi pekerja adalah karena putus sekolah dan harus membantu ekonomi keluarga. sehingga, sebagaian besar anak usia sekolah harus bekerja dengan jam kerja yang panjang dan menghadapai kondisi yang berbahaya. Perlu disayangkan jika hal ini terjadi pada generasi kita, maka impian masa depan anak kita akan menjadi kabur dikarenakan oleh mencari keuntungan sesaat tetapi mengabaikan perkembangan sumber daya manusia yang bisa mengolah pertambangan itu dengan sebaik-baiknya di kemudian hari.
Sebagai suatu impian bersama dalam mengembangkan aspek pendidikan anak perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai elemen masyarakat kita di Pulau Buru, bukan hanya dari pemerintah saja. Salah satu strategi pendekatan yang mungkin dapat dilakukan adalah pemberian bimbingan dan pencerahan motivasi dari semua unsur kepada generasi kita untuk menjadikan dirinya sebagai “pendulang pendidikan bukan sebagai pendulang emas” yang hanya melihat aspek jangka pendek, dan mengabaikan aspek jangka panjang tersebut.
Perlu Pendampingan bersama dari kita semua, agar anak-anak siap kembali menuntut ilmu dan memberi motivasi lagi pada mereka. Perlu diingat bahwa dari pendidikan tersebut akan menjadi kunci utama berkembangnya suatu wilayah. Mengapa harus pendidikan? Karena pendidikan merupakan inti dari semua hal yang menjadi keinginan bangsa dalam mewujutkan pengelolaan kekayaan alam di Pulau Buru sehingga nantinya kita menjadi raja dan bukan menjadi hamba di negeri kita sendiri. Melalui pendidikan akan terciptanya pengelolaan kekayaan sehingga tak ada lagi pengangguran di masa yang akan datang dan berbagai masalah didalamnya.. Untuk itu mari kita besama-sama bersatu hati membangun daerah ini melalui pendidikan. Lolik Lalen Fedak Fena.